Minggu, 10 April 2022

"KONSEP TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME, HUMANISME, BEHAVIORISME"

 "KONSEP TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME, HUMANISME, BEHAVIORISME"


A.    KONSEP DAN TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME

Menurut pandangan konstruktivisme pengetahuan pada dasarnya di bangun oleh siswa melalui interaksi dengan lingkungan. Asumsi ini mengisyaratkan bahwa proses yang bermakna bagi siswa akan terjadi kalau ia berbuat atas lingkungannya, mengkreasi dan memanipulasi objek. 

Untuk dapat terjadinya proses pembelajaran yang berbasis pendekatan konstruktivisme, maka para guru senantiasa memegang prinsip-prinsip pembelajaran, yaitu yang harus diperhatikan adalah :

1.         Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, baik secara personal ataupun social.

2.         Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kesiswa, kecuali dengan keaktifan siswa sendiri untuk bernalar.

3.         Siswa aktif mengkonstruksi secara terus menerus, sehingga terjadi perubahan konsep menuju ke konsep yang lebih perinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiah.

4.         Guru sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa berjalan mulus.

Siswa perlu dikondisikan untuk terbiasa memecahkan masalah, ,menemukan hal-hal yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan dengan gagasan-gagasan.pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan menerima pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran.

1.         Proses belajar mengajar ilmu-ilmu social akan tangguh apabila melakukan banyak kegiatan aktif, seperti :

a.         Belajar mengajar aktif harus disertai dengan berfikir reflektif dan pengambilan keputusan selama kegiatan berlangsung, karena proses pembelajaran berlangsung dengan cepat dan peristiwa dapat berkembang tiba-tiba.

b.        Melalui proses belajar aktif, siswa lebih mudah mengembangkan dan memahami pengetahuan baru mereka.

c.         Proses belajar aktif membangun kebermaknaan pembelajaran yang diperlukan agar peserta didik dapat mengembangkan pemahaman sosialnya.

d.        Peran guru secara bertahap bergeser dari berbagai sumber pengetahuan atau model kepada peranan yang tidak menonjol untuk mendorong siswa agar mandiri dan berdisiplin.

e.         Proses belajar mengajar ilmu-ilmu social yang tangguh menekankan proses pembelajaran dengan kegiatan aktif dilapangan untuk mempelajari kehidupan nyata dengan menggunakan bahan dan keterampilan yang ada dilapangan.

2.         Ciri-ciri pembelajaran Konstruktivisme

Model pembelajaran dapat dikategorikan pada pendekatan pembelajaran-pembelajaran konstruktivisme apabila memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

a.         Pengetahuan di bangun berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang telah ada sebelumnya.

b.        Belajar merupakan proses yang aktif dimana makna dikembangkan berdasarkan pengalaman.

c.         Pengetahuan tumbuh karna adanya perundingan, makna melalui berbagai informasi atau menyepakati sesuatu pandangan dalam berinteraksi atau bekerja sama dengan orang lain.

Pengetahuan tumbuh dan berkembang dari buah pikiran manusia melalui konstruktitusi berfikir, bukan melalui transfer dari guru kepada siswa. Oleh karena itu siswa tidak dianggap sebagai tabula rasa atau berotak kosong ketika berada dikelas. Ia telah membawa berbagai pengalaman, pengetahuan yang dapat digunakan untuk mengkostruksi pengetahuan baru atas dasar perpaduan pengetahuan, sebelumnya dan pengetahuan yang baru itu dapat menjadi milik mereka.

3.         Dalam teori Konstruktivisme tugas guru menurut sagala (2006:88), yaitu memfasilitasi proses tersebut dengan :

a.         Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi peserta didik.

b.        Memberi kesempatan bagi peserta didik unutk menemukan dan menerapkan idenya sendiri

c.         Menyadarkan peserta didik agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.

Tokoh – Tokoh Teori Kontruktivisme

Tokoh penting dalam teori belajar Konstruktivisme secara teoritik antara lain adalah : jean piaget dan Von Galserfeld (dalam Paul, S., 1996)

1.         Teori Belajar Kontruktivisme Jean Piaget

Jean piaget adalah psikolog pertama yang menggunakan filsafat kontruktivisme, yang teori pengetahuannya dikenal dengan adaptasi kognitif. Manusia berhapadan dengan tantangan, pengalaman, gejala baru, dan persoalan yang harus ditanggapi secara kognitif (mental).Untuk itu, manusia harus mengembangkankan skema pikirannya lebih umum atau rinci, atau perlu perubahan, menjawab dan menginterpretasikan pengalaman-pengalaman tersebut.

Menurut Piaget tahun (1971) pengetahuan itu akan bermakna bila dicari dan ditemukan sendiri oleh peserta didik bukan hasil pemberitahuan orang lain, termasuk guru. Selanjutnya, piaget dalam sanjaya (2007:194) menyatakan bahwa setiap individu berusaha dan mampu mengembangkan pengetahuannya sendiri melalui skema yang ada dalam struktur kognitifnya. Skema ini terus menerus diperbaharui dan diubah melalui proses akumulasi dan akomodasi. Dengan demikian, tugas guru adalah memotivasi peserta didik untuk mengembakan skema yang terbentuk melalui proses akumulasi dan akomodasi tersebut.

Piaget (1967, 1970) mengembangkan konsep dan metode teori dasar untuk mengkaji proses kognitif. Teori dan penelitian Piaget (1967) mengenai perkembangan kognitif menyarankan bahwa anak-anak tumbuh melalui beberapa tingkatan (stages) yang berbeda dalam perkembangan kognitif dan bayi sampai dewasa. Menurut Piaget tingkat pertama perkembangan kognitif membangun fondasi untuk perkembangan konsepual dalam tindakan, dimulai dengan tindakan sensori motorik dan refleksi.Tingkatan selanjutnya membangun tingkat kognisi yang lebih tinggi pada skema yang terbentuk sebelumnya. Piaget menawarkan statement ringkas pada teorinya tentang meaning making: “otak mengorganisasi dunia dengan mengorganisasi dirinya”. Selain itu, Piaget juga berpendapat bahwa pada dasarnya setiap individu sejak kecil sudah memiliki kemampuan untuk menngkontruksi pengetahuannya sendiri. Pengethuan yang dikonstruksi oleh anak sebagai subjek, maka akan menjadi pengetahuan yang bermakna; sedangkan pengetahuan yang hanya diperoleh melalui pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. pengethauan tersebut hanya untuk diingat sementara setelah itu dilupakan (Sanjaya, 2009:124).

Menurut Piaget, mengkonstruksi pengetahuan dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi. Proses merespon lingkungan sesuai dengan struktur kognitif seseorang dinamakan assimilation (asimilasi), yakni sejenis pencocokan atau penyesuaian antara struktur kognitif dengan lingkungan fisik. Struktur kognitif yang eksis pada momen tertentu akan dapat diasimilasikan oleh organisme. Misalnya, jika skema mngisap, menatap, menggapai, dan memegang sudah tersedia bagi si anak, maka segala sesuatu yang dialami anak akan diasimilasikan ke skemata itu. Saat struktur berubah maka anak mungkin bisa mengasimilasikan aspek-aspek yang berbeda dari lingklungan fisik.Skema yang dimaksud oleh Piaget dalam hal ini adalah potensi umum untuk melakukan satu kelompok prilaku. Skema adalah istilah yang amat penting dalam teori piaget. Suatu skema dapat dianggap sebagai elemen dalam struktur kognitif organisme. Skemata (istilah jamak dari skema) yang ada dalam organisme akan menentukan bagaimana ia akan merespon lingkungan fisik

Jelas, jika asimilasi adalah satu-satunya proses kognitif, maka tak akanada perkembangan intelektual sebab organisme hanya akan mengasimilasikan pengalamnnya ke dalam struktur kognitif. Namun, proses penting kedua menghasilkan mekanisme untuk perkembangan intelektual yaitu accomodation (akomodasi), proses memodifikasi struktur kognitif.

Setiap pengalaman yang dialami seseorang akan melibatkan asimilasi dan akomodasi. kejadian-kejadian yang berkoresponden dengan skemata oragnisme membutuhkan akomodasi. Jadi, semua pengalaman melibatkan dua proses yang sama-sama penting: pengenalan atau mengetahui, yang berhubungan dengan asimilasi dan akomodasi, yang menghasilkan modifikasi struktur kognitif. modifikasi ini dapat disamakan dengan proses belajar. dengan kata lain, kita merespon dunia berdasarkan pengalaman yang kita alami sebelaumnya. Aspek unik dari pengalaman ini menyebabkan perubahan dalam struktur kogniti (akomodasi).Akomodasi karenanya menyediakan sarana utama bagi perkembangan intelektual.

2.          Von Galserfeld (dalam Paul, S., 1996)

Sebagaimana dikutif oleh Asri Budiningsih (2005:57) mengemukakan bahwa ada beberapa kemampuan yang diperlukan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan, yaitu; 1) kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman, 2) kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan akan kesamaan dan perbedaan dan 3) kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengetahuan yang satu daripada yang lainnya.

Setara dengan di atas, Budingsih juga mengemukakan bahwa faktor-faktor yang juga mempengaruhi proses mengkonstruksi pengetahuan adalah konstruksi pengetahuan seseorang yang telah ada, domain pengalaman, dan jaringan struktur kognitif yang dimilikinya. Proses dan hasil konstruksi pengetahuan yang telah dimiliki seseorang akan menjadi pembatas konstruksi pengetahuan yang akan datang. Pengalaman akan fenomena yang baru menjadi unsur penting dalam membentuk dan mengembangkan pengetahuan. keterbatasan pengalaman seseorang pada suatu hal juga akan membatasi pengetahuannya akan hal tersebut. pengetahuan yang telah dimiliki orang tersebut akan membentuk suatu jaringan struktur kognitif dirinya.

Semua kalangan dari paham konstruktivis menyetujui bahwa pengetahuan secara aktif dikonstruksi oleh manusia, entah secara individual ataupun dalam kelompok, bukannya diterima dari sumber natural atau supranatural (atau bahkan dari seorang professor; Philips 1995). Selain ini, definisi kontruktivisme beragam menurut permasalahan yang diperdebatkan bersama dengan perubahan konstruktivis. Bidang perdebatan yang paling dasar dipresentasikan oleh suatu rangkaian dalam memandang belajar sebagai suatu tindakan instruksi secara individual untuk melihat belajar sebagai sebuah kontruksi sosial. Rangkaian ini dipusatkan pada satu posisi yang dikenal sebagai konstruktivisme radikal atau psikologikal, yang menggambarkan konstruksi pengetahuan sebagai suatu proses yang terjadi dalam mind dari individu. Pada sisi lain dari rangkaian tersebut diberlakukan dengan posisi yang dikenal sebagai “social constructivism or sociocultural posistion” yang melihat “mind” sebagai hampir secara keseluruhan melekat pada social practice of the culture (kenyataan sosial budaya) (Robert, 2004: xiii)

Dengan demikian, kontruktivisme seperti dikatakan oleh Von Glasefeld adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah bentukan (kontruksi) kita sendiri. pengetahuan bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan merupakan hasil dari kontruksi kognitif melalui melalui kegiatan seseorang dengan membuat struktur, kategori, konsep, dan sekma yang diperlukan untuk membentuk pengetahuan baru. Padangan kontruktivistik mengemukakan bahwa realitas ada pada pikiran seseorang. Manusia mengkonstruksi pengalamnnya. konstruktivistik mengarahkan perhatiannya pada bagaimana seseorang mengkonstruksi pengetahuan dari pengalamnnya, struktur mental, dan keyakinan yang digunakan untuk menginterpretasikan objek dan peristiwa-peristiwa. Pandangan konstruktivistik mengakui bahwa pikiran dalah instrumen penting dalam menginterpretasikan kejadian, objek, dan pandangan dunia nyata, di mana interpretasi tersebut terdiri dari pengetahuan dasar manusia secara individual.

B.      KONSEP DAN TEORI BELAJAR HUMANISME

Dalam teori belajar humanisme proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri. Meskipun teori ini sangat menekankan pentingnya isi dari proses belajar, dalam kenyataan teri ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada belajar seperti apa adanya, seperti apa yang bias kita amati dalam dunia keseharian. Menurut teori humanisme, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia pun mampu mencapai aktualisai diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenali diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang dad dalam diri mereka.

Dalam pelaksanaannya, teori humanisme ini antara lain tampak juga dalam pendekatan belajar yang dikemukakan oleh Ausubel. Pandangannya tentang belajar bermakna atau “Meaningful Lerning” yang juga tergolong dalam aliran kognitif ini, mengatakan bahwa belajar merupakan asimilasi bermakna.materi yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Faktor motivasi dan pengalaman emosional sangat penting dalam peristiwa belajar, sebab tanpa motivasi dan  keinginan dari pihak si belajar, maka tidak akan terjadi asimilasi pengetahuan baru kedalam struktur kognitif yang telah dimilikinya teori humanisme berpendapat bahwa teori belajar apapun dapat dimanfaatkan, asal tujuannya untuk memenusiakan manusia yaitu mencapai aktualisai diari, pemahama diri, serta realisasi diri orang yang belajar secara optimal.

Pemahaman terhadap belajar yang diidealkan menjadi teori humanisme dapat memanfaatkan teori belajar apapun asal tujuannya memanusiakan manusia. Hal ini menjadikan teori humanisntic bersifat sangan eklektik. Tidak dapat disangkal lagi bahwa setiap pendiriian atau pendekatan belajar tertentu akan ada kebaikan dan ada pula klemahannya. Dalam arti ini elektisisme suatu system dengan membiarkan unsure-unsur tersebut dalam keadaan sebagaimana adanya atau aslinya. Teori humanisme akan memanfaatkan teori-teori apapunasal tujuanya tercapai yaitu memanusiakan manusia.

Manusia adalah makhluk yang kompleks. Banyak ahli didalam menyusun teorinya hanya terpukau pada aspek tertentu yang sedang menjadi pusat perhatiannya. Dengan pertimbangan – pertimbangan tertentu setiap ahli melakukan penelitiannya dari sudut pandangnya masing – masing dan menganggap bahwa keterangannya tentang bagaimana manusia itu belajar adalah sebagai keterangan yang paling memadai. Maka akan terdapat berbagai teori tentang belajar sesuai pandangan masing –masing.

Kelebihan dan kekurangan aplikasi teori belajar humanisme

Kelebihannya

1.         Aplikasi teori ini bisa memunculkan kreativitas peserta didik atau orang yang belajar. Hal ini terjadi karena teori ini berpusat pada orang yang belajar, bukan pada materi yang harus dijejalkan pada peserta didik.

2.         Tenaga pendidik justru memiliki tugas yang lebih ringan, tidak terpaku untuk menyelesaikan materi tetapi lebih fokus pada pengembangan setiap individu yang belajar.

3.         Teori humanistik cenderung mampu merekatkan hubungan sosial antara peserta didik. Tidak ada persaingan dalam pembelajaran karena semua orang berhak untuk mengoptimalkan kemampuan diirnya, sesuai pada tingkatan masing-masing.

4.         Melatih peserta didik sebagai pribadi yang bebas dan tidak terikat dengan pendapat orang lain. Peserta didik diarahkan untuk bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Kekurangannya

Meskipun cenderung sangat membebaskan peserta didik dalam proses pembelajaran, nyatanya teori ini memiliki beberapa kelemahan yang harus diwaspadai.

1.         Aplikasi teori ini memungkinkan peserta didik untuk sulit memahamai potensi dirinya sendiri. Ini terjadi karena tenaga pendidik yang terlalu ‘melepaskan’ peserta didik dalam mengeksplorasi dirinya sendiiri

2.         Peserta didik yang tidak berminat untuk mengikuti proses belajar akan tertinggal dengan peserta didik lain yang sudah memiliki niatan untuk belajar dan memperbaiki diri.

3.         Jika peserta didik tidak rajin untuk mengikuti proses pembelajaran, besar kemungkinan ia akan kesulitan mengikuti proses belajar selanjutnya karena masih tertinggal di tahap-tahap awal.

4.         Peserta didik memiliki potensi untuk menyalahgunakan kebebasan yang diberikan.

 

Tokoh – Tokoh Teori Humanisme

Tokoh penting dalam teori belajar humanitik secara teoritik antara lain adalah : Arthur Combs, Abraham Maslow, dan Carl Rogers.

1.         Arthur Combs

Perasaan , persepsi , keyakinan dan maksud merupakan perilaku-perilaku batiniah yang menyebabkan seseorang berbeda dengan yang lain

Menurut Combs dan kawan – kawan menyatakan bahwa apabila kita ingin memahami perilaku orang kita harus mencoba memahami dunia persepsi orang lain tersebut , bagaimana ia berpikir dan merasa tentang dirinya . itulah sebabnya , untuk mengubah perilaku orang lain seseorang harus mengubah persepsinya .

Para ahli psikologi humanisme melihat 2 bagian belajar , yaitu :

a.       Pemerolehan informasi baru

Peserta didik akan tertarik dan bersemangat untuk belajar jika apa yang dipelajari akan menjadi suatu informasi baru yang bermakna dan bermanfaat bagi dirinya

b.      ’ Personalisasi’’ informasi ini pada individu

Informasi baru yang dipahami peserta didik itu bukan hasil transfer langsung dari guru kepesrta didik tapi peserta didik sendirilah yang menerna dan mengolah apa yang disampaikan guru menjadi sesuai dan bermakna . artinya informasi itu dieroleh sendiri dan peserta didik lahyang menjadi pemilik informasi tersebut . peran guru disini adalah sebagai pembimbing yang mengarahkan.

      Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah dari ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya. Untuk itu guru harus memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain .

Combs juga berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila subjek metter-nya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya .Padahal ‘’arti’’ tidaklah menyatu pada subject matter itu, dengan kata lain di individulah yang memberikan arti tadi kepada subject matter itu. Sehingga yang penting adalah bagaimana caranya membawa si siswa untuk memperoleh ‘’ arti bagi pribadi nya ‘’ dari subject matter itu , bagaimana siswa itu menghubungkan subject matter itu dengan kehidupan nya.

2.         Abraham Maslow

Abraham Maslow (1908-1970) dapat dipandang sebagai bapak psikologi humanistik. Gerakan psikologi humanistik lahir di Amerika Serikat pada tahun 1950 dan terus berkembang. Alasan munculnya pendekatan psikologi humanistik ini disebabkan karena ketidakpuasan terhadap pendekatan behavioristik. Psikologi humanistik itu sendiri adalah gambaran dimana manusia dipandang sebagai makhluk yang bermartabat dan bebas yang selalu bergerak untuk mengungkap eksistensinya dengan segala potensinya. Aliran ini menawarkan suatu nilai untuk memahami sifat, tingkah laku, serta psikoterapi yang lebih terapi terhadap manusia.

Manusia adalah makhluk kreatif yang tidak dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan ketidaksadaran (psikonalisis), melainkan oleh nilai-nilai dan pilihannya sediri. Pada tahun 1958 Maslow menamakan psikologi humanistik sebagai “kekuatan ketga”, disamping behavioristik dan psikoanalisis sebagai kekuatan pertama dan kekuatan kedua.

Maslow terkenal dengan teorinya tentang hierarchy of needs. Adapun isi dari teori tersebut, yaitu:

a.         Kebutuhan-kebutuhan fisiologis (the physicological needs).

b.        Kebutuhan akan rasa aman (the safety needs).

c.         Kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki (the belongingness and love needs).

d.        Kebutuhan akan penghargaan (the esteem needs).

e.         Kebutuhan untuk aktulisasi  diri (the needs for self actualization).

   Apabila kebutuhan yang satu telah terpenuhi, maka kebutuhan yang lebih tinggi akan menuntut untuk dipenuhi, demikian pula seterusnya.

Menurut Maslow psikologi harus lebih manusiawi, yaitu lebih memusatkan perhatian pada masalah-masalah kemanusiaan. Psikologi harus mempelajari seberapa dalam sifat manusia, selain mempelajari perilaku yang tampak kita juga harus mempelajari perilaku yang tidak tampak; mempelajari ketidaksadaran sekaligus mempelajari kesadaran. Introspeksi sebagai suatu metode penelitian yang telah disingkirkan, harus dikembalikan lagi sebagai metode penelitian psikologi. Psikologi harus mempelajari manusia bukan sebagai tanah liat yang pasif, yang ditentukan oleh kekuatan-kekuatan dari luar, tetapi manusia adalah makhluk yang aktif, menentukan geraknya sendiri, ada kekuatan dari dalam untuk menentukan perilakunya.

Ada empat ciri psikologi humanistik, yaitu:

a.         Memusatkan perhatian pada orang yang mengalami, dan karenanya berfokus pada pengalaman sebagai fenomena primer dalam mempelajari manusia.

b.         Menekankan pada kualitas-kualitas yang khas manusia, seperti kreativitas, aktualitas diri, sebagai lawan dari pemikiran tentang manusia yang mekanistis dan reduksionistis.

c.         Menyandarkan diri pada kebermaknaan dalam memilih masalah yang akan dipelajari dan prosedur-prosedur penelitian yang akan digunakan.

d.        Memberikan perhatian penuh dan meletakkan nilai yang tinggi pada kemuliaan dan martabat manusia serta tertarik pada perkembangan potensi yang inheren pada setiap individu.

3.           Carl R. Rogers

Dalam bukunya “ freedom to learn “, ia menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip belajar humanistik yang penting, diantaranya ialah :

a.         Manusia itu mempunyai kemampuan untuk belajar secara alami.

b.        Belajar yang signifikan terjadi apabila subject matter dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksudnya sendiri.

c.         Belajar yang menyangkut suatu perubahan di dalam persepsi mengenai diri sendiri, dianggap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.

d.        Tugas-tugas belajar yang mengancam diri adalah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil.

e.         Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.

f.         Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.

g.        Belajar yang diperlancar bilamana siswa dilibatkan langsung dalam proses belajar dan ikut bertanggung  jawab terhadap proses belajar itu.

h.        Belajar atas inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.

i.          Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreatifitas lebih mudah dicapai apabila terutama siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengkritik dirinya sendiri dan penilaian diri orang lain merupakan cara kedua yang penting.

j.          Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam dirinya sendiri mengenai proses perubahan itu.

C.      KONSEP DAN TEORI BELAJAR BEHAVIORISME

Teori belajar behavioristic ini dikemukakan oleh para psikolog behavioristik. Mereka ini sering disebut “contemporary behaviorist” atau disebut “S-R psychologists” Mereka berpendapat, bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran (reward) atau penguatan (reinforcement”) dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioral dengan stimulasinya.

Guru-guru yang menganut pandangan ini berpendapat bahwa tingkah laku murid-murid merupakan reaksi-reaksi terhadap lingkungan mereka pada masa lalu daan masa sekarang dan bahwa segenap tingkah laku merupakan hasil belajar. Kita dapat menganalisis kejadian tingkah laku dengan jalan mempelajari latar belakang penguatan (“reinforcement”) terhadap tingkah laku tersebut.

Behaviorisme adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh respons pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi yang diinginkan.Hukuman kadang-kadang digunakan dalam menghilangkan atau mengurangi tindakan tidak benar, diikuti dengan menjelaskan tindakan yang diinginkan.Pendidikan behaviorisme merupakan kunci dalam mengembangkan keterampilan dasar dan dasar-dasar pemahaman dalam semua bidang subjek dan manajemen kelas.Ada ahli yang menyebutkan bahwa teori belajar behavioristik adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret.

Premis dasar teori belajar behavioristik menyatakan bahwa interaksi antara stimulus respons dan penguatan terjadi dalam suatu proses belajar. Teori belajar behavioristik sangat menekankan pada hasil belajar, yaitu perubahan tingkah laku yang dapat dilihat. Hasil belajar diperoleh dari proses penguatan atas respons yang muncul terhadap stimulus yang bervariasi.

Salah satu teori belajar behavioristik adalah teori classical conditioning dari Pavlov yang didasarkan pada reaksi sistem tak terkondisi dalam diri seseorng serta gerak refleks setelah menerima stimulus. Menurut Pavlov, penguatan berperan penting dalam mengkondisikan munculnya respons yang diharapkan. Jika penguatan tidak dimunculkan, dan stimulus hanya ditampilkan sendiri, maka respons terkondisi akan menurun dan atau menghilang. Namun, suatu saat respons tersebut dapat muncul kembali.

Sementara itu, connectionism dari Thorndike menyatakan bahwa belajar merupakan proses coba-coba sebagai reaksi terhadap stimulus. Respons yang benar akan semakin diperkuat melalui serangkaian proses coba-coba, sementara respons yang tidak benar akan menghilang. Akibat menyenangkan dari suatu respons akan memperkuat kemungkinan munculnya respons. Respons yang benar diperoleh dari proses yang berulang kali yang dapat terjadi hanya jika siswa dalam keadaan siap.

Teori behaviorism dari Watson menyatakan bahwa stimulus dan respons yang menjadi konsep dasar dalam teori perilaku haruslah berbentuk tingkah laku yang dapat diamati. Interaksi stimulus dan respons merupakan proses pengkondisian yang akan terjadi berulang-ulang untuk mencapai hasil yang cukup kompleks.

Ciri dari behaviorisme adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkahl laku adalah hasil belajar.

Dalam hal konsep pembelajaran, proses cenderung pasif berkenaan dengan teori behavioris.Pelajar menggunakan tingkat keterampilan pengolahan rendah untuk memahami materi dan material sering terisolasi dari konteks dunia nyata atau situasi.Little tanggung jawab ditempatkan pada pembelajar mengenai pendidikannya sendiri.

Ada beberapa tokoh behaviorisme.Tokoh-tokoh aliran behaviorisme tersebut antaranya adalah Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner. Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh aliran behaviorisme dan analisis serta peranannya dalam pembelajaran.

1.         Teori Belajar Menurut Edward Thorndike

Menurut Thorndike, adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan atau gerakan / tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat belajar dapat berwujud konkrit, yaitu dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati.

Teori Thorndike ini disebut pula dengan “Teori Connectionism”. Dasar-dasar teori Connectionism dari Edward L. Thorndike (1874-1949) diperoleh juga dari sejumlah penelitian yang dilakukan terhadap perilaku binatang. Penelitian-penelitian Thorndike pada dasarnya dirancang untuk mengetahui apakah binatang mampu memecahkan masalah dengan menggunakan “reasoning” atau akal, dan atau dengan mengkombinasikan beberapa proses berpikir dasar.

Dalam penelitiannya, Thorndike menggunakan beberapa jenis binatang, yaitu anak ayam, anjing, ikan, kucing dan kera. Percobaan yang dilakukan mengharuskan binatang-binatang tersebut keluar dari kandang untuk memperoleh makanan. Percobaan Thorndike yang terkenal ialah dengan menggunakan seekor kucing yang telah dilaparkan dan diletakkan di dalam sangkar yang tertutup dan pintunya dapat dibuka secara otomatis apabila kenop yang terletak di dalam sangkar tersebut tersentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori “trial and error” atau “selecting and conecting”, yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. Dalam percobaan tersebut apabila di luar sangkar diletakkan makanan, maka kucing berusaha untuk mencapainya dengan cara meloncat-loncat kian kemari. Dengan tidak tersengaja kucing telah menyentuh kenop, maka terbukalah pintu sangkar tersebut, dan kucing segera lari ke tempat makan. Percobaan ini diulangi untuk beberapa kali, dan setelah kurang lebih 10 sampai dengan 12 kali, kucing baru dapat dengan sengaja menyentuh kenop tersebut apabila di luar diletakkan makanan.

Ciri-ciri belajar dengan Thorndike menemukan beberapa hukum yaitu:

a.         Hukum kesiapan, jika suatu organisme didukung oleh kesiapan yang kuat untuk memperoleh stimulus maka pelaksanaan tingkah laku akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosaiasi cenderung diperkuat.

b.        Hukum latihan, Semakin sering suatu tingkah laku dilatih atau digunakan maka asosiasi tersebut semakin kuat.

c.         Hukum akibat, Hubungan stimulus dan respon cenderung diperkuat bila akibat menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibanya tidak memuaskan.

2.         Teori Belajar Menurut Watson

John B. Watson (1878 – 1958) adalah orang pertama di Amerika Serikat yang mengembangkan teori belajar berdasarkan hasil penelitian Pavlov. Watson berpendapat bahwa “Belajar merupakan proses terjadinya refleks – refleks atau respon – respon bersyarat melalui stimulus pengganti”.  Menurut Watson,  manusia dilahirkan dengan beberapa refleks dan reaksi-reaksi emosional berupa takut, cinta dan marah. Semua tingkah laku lainnya terbentuk oleh hubungan – hubungan stimulus respon baru melalui conditioning (pensyaratan)

Salah satu percobaannya adalah terhadap anak berumur 11 bulan dengan seekor tikus putih. Rasa takut dapat timbul tanpa dipelajari dengan proses ekstrinsik, dengan mengulang stimulus bersyarat tanpa dibarengi stimulus tanpa bersyarat.

Menurut Watson, kepribadian manusia dapat dibentuk melalui pemberian rangsangan – rangsangan tertentu. Watson berpendapat bahwa hampir semua prilaku merupakan hasil dari pengendalian dan lingkungan membentuk perilaku kita dengan memperkuat kebiasaan tertentu. Belakangan, behaviorisme lebih dikenal dengan teori belajar, karena menurut mereka, seluruh perilaku manusia, kecuali insting, adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Tentu saja, behaviorisme tidak mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional, behaviorsme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan.

Watson berpendapat, bahwa hal senang dan tidak senang itu adalah soal senso motoris, dia ingin mengetahui apakah ada reaksi emosional yang dibawa sejak lahir. Untuk keperluan ini dia melakukan penyelidikan terhadap berpuluh-puluh bayi yang dirawat rumah sakit, dan mendapatkan adanya tiga macam pola tingkah laku emosional yang dapat diamati yaitu takut, marah dan cinta

Dalam eksperimen-eksperimen lebih lanjut dia mendapat kesimpulan, bahwa reaksi-reaksi emosional itu dapat ditimbulkan dengan pensyaratan (conditioning) dan reaksi emosiaonal bersyarat itu dapat dihilangkan dengan pensyaratan kembali (reconditioning). Tentang proses persyaratan dan pensyaratan kembali itu pada pokoknya sama dengan yang dilakukan oleh Pavlov.

Watson berpendapat bahwa reaksi-reaksi kodrati yang dibawa sejak lahir itu sedikit sekali. Kebiasaan-kebiasaan itu terbentuk dalam perkembangan, karena latihan dan belajar.

3.         Teori Belajar Menurut Clark Hull

Clark L. Hull mengatakan  bahwa stimulus (S) berpengaruh terhadap organisme (O) dan menghasilkan bermacam-macam respon (R) tergantung bagaimana karakter (S) dan (O). Teori Hull disebut dengan Teori pengurangan dorongan atau “Drive Reduction”. Sama dengan teori lainnya, reinforcement atau penguatan merupakan faktor utama teori Clark Hull. Bedanya teori Clark Hull terpengaruh dengan teori evolusi dari Charles Darwin. Menurut Clark Hull, sama halnya dengan teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Clark Hull mengatakan kebutuhan biologis (Drive) harus ada dalam diri seseorang sebelum diperkuat oleh pengurangan kebutuhan (Drive Reduction). Teori belajar Hull berpusat pada perlunya memperkuat pengetahuan yang sudah ada. Menurut pandangan Clark Hull belajar tidak terjadi secara spontan, tetapi karena ada hubungan S-R dan perilaku juga dipengaruhi suatu proses yang terjadi dalam diri organisme tetapi tidak bisa diamati atau disebut “Variabel Intervening”. Intinya menurut pendapat Clark Hull hasil belajar siswa dipengaruhi kemampuan siswa itu sendiri, lingkungan, dan faktor lain seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, serta faktor fisik dan psikis.

Prinsip-prinsip utama teori dari Hull sendiri adalah :

a.         Reinforcement adalah faktor penting dalam belajar yang harus ada. Namun fungsi reinforcement bagi Hull lebih sebagai drive reduction daripada satisfied factor.

b.        Dalam mempelajari hubungan S-R yang diperlu dikaji adalah peranan dari O (organisme).

c.         Proses belajar baru terjadi setelah keseimbangan biologis terjadi. Di sini tampak pengaruh teori Charles Darwin yang mementingkan adaptasi biologis organisme.

Prinsip Drive Reduction :

a.         Dorongan merupakan hal penting.

b.        Stimulus dan respon harus diketahui organisme agar dapat terjadi pembiasaan.

c.         Respon harus dibuat agar terjadi pembiasaan.

d.        Pembiasaan hanya terjadi jika reinforcement dapat memenuhi kebutuhan.

Contoh Pengaplikasian Teori Clark Hull :

Contohnya dalam kelas, mereduksi kecemasan murid adalah syarat yang diperlukan untuk belajar di kelas, karena terlalu sedikit kecemasan atau tidak ada kecemasan sama sekali tidak akan menimbulkan motivasi dalam proses belajar, karena tidak adanya dorongan yang direduksi. Tetapi terlalu banyak kecemasan malah akan mengganggu proses balajar. Karena ketika kecemasan itu ringan sampai sedang, misalnya diberitahukan setiap minggunya diadakan kuis, maka akan memacu semangat murid untuk  belajar sebelum tatap muka dengan guru.Miller dan Dollard (1941) mengemukakan aplikasi teori Hull untuk pendidikan

Drive (Siswa harus menginginkan sesuatu).

Misalnya, siswa tersebut tau apa yang akan dicapainya, seperti cita–cita.

Cue (Siswa harus memerhatikan sesuatu).

Misalnya , siswa focus terhadap apa yang ingin dicapainya.

Response (Siswa harus melakukan sesuatu).

Misalnya, siswa rajin belajar, melaksanakan apa yang diperintahkan gurunya, dll.

Reinforcement (Respon siswa harus membuatnya mendapatkan sesuatu yang diinginkan).

Misalnya, dengan berusaha sekeras mungkin untuk mencapai tujuan yang diinginkan.


"KONSEP TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME, HUMANISME, BEHAVIORISME"

 " KONSEP  TEORI BELAJAR  KONSTRUKTIVISME,  HUMANISME,  BEHAVIORISME" A.     KONSEP DAN TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME Menurut pand...