"KONSEP TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME, HUMANISME, BEHAVIORISME"
A.
KONSEP DAN TEORI BELAJAR
KONSTRUKTIVISME
Menurut
pandangan konstruktivisme pengetahuan pada dasarnya di bangun oleh siswa
melalui interaksi dengan lingkungan. Asumsi ini mengisyaratkan bahwa proses
yang bermakna bagi siswa akan terjadi kalau ia berbuat atas lingkungannya,
mengkreasi dan memanipulasi objek.
Untuk dapat
terjadinya proses pembelajaran yang berbasis pendekatan konstruktivisme, maka
para guru senantiasa memegang prinsip-prinsip pembelajaran, yaitu yang harus
diperhatikan adalah :
1.
Pengetahuan dibangun
oleh siswa sendiri, baik secara personal ataupun social.
2.
Pengetahuan tidak dapat
dipindahkan dari guru kesiswa, kecuali dengan keaktifan siswa sendiri untuk
bernalar.
3.
Siswa aktif
mengkonstruksi secara terus menerus, sehingga terjadi perubahan konsep menuju
ke konsep yang lebih perinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiah.
4.
Guru sekedar membantu
menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa berjalan mulus.
Siswa perlu dikondisikan untuk terbiasa memecahkan
masalah, ,menemukan hal-hal yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan
dengan gagasan-gagasan.pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi
bukan menerima pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri
pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran.
1.
Proses belajar mengajar
ilmu-ilmu social akan tangguh apabila melakukan banyak kegiatan aktif, seperti
:
a.
Belajar mengajar aktif
harus disertai dengan berfikir reflektif dan pengambilan keputusan selama
kegiatan berlangsung, karena proses pembelajaran berlangsung dengan cepat dan
peristiwa dapat berkembang tiba-tiba.
b.
Melalui proses belajar
aktif, siswa lebih mudah mengembangkan dan memahami pengetahuan baru mereka.
c.
Proses belajar aktif
membangun kebermaknaan pembelajaran yang diperlukan agar peserta didik dapat
mengembangkan pemahaman sosialnya.
d.
Peran guru secara
bertahap bergeser dari berbagai sumber pengetahuan atau model kepada peranan
yang tidak menonjol untuk mendorong siswa agar mandiri dan berdisiplin.
e.
Proses belajar mengajar
ilmu-ilmu social yang tangguh menekankan proses pembelajaran dengan kegiatan
aktif dilapangan untuk mempelajari kehidupan nyata dengan menggunakan bahan dan
keterampilan yang ada dilapangan.
2.
Ciri-ciri pembelajaran
Konstruktivisme
Model
pembelajaran dapat dikategorikan pada pendekatan pembelajaran-pembelajaran
konstruktivisme apabila memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a.
Pengetahuan di bangun
berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang telah ada sebelumnya.
b.
Belajar merupakan
proses yang aktif dimana makna dikembangkan berdasarkan pengalaman.
c.
Pengetahuan tumbuh
karna adanya perundingan, makna melalui berbagai informasi atau menyepakati
sesuatu pandangan dalam berinteraksi atau bekerja sama dengan orang lain.
Pengetahuan
tumbuh dan berkembang dari buah pikiran manusia melalui konstruktitusi
berfikir, bukan melalui transfer dari guru kepada siswa. Oleh karena itu siswa
tidak dianggap sebagai tabula rasa atau berotak kosong ketika berada dikelas.
Ia telah membawa berbagai pengalaman, pengetahuan yang dapat digunakan untuk
mengkostruksi pengetahuan baru atas dasar perpaduan pengetahuan, sebelumnya dan
pengetahuan yang baru itu dapat menjadi milik mereka.
3.
Dalam teori Konstruktivisme
tugas guru menurut sagala (2006:88), yaitu memfasilitasi proses tersebut dengan
:
a.
Menjadikan pengetahuan
bermakna dan relevan bagi peserta didik.
b.
Memberi kesempatan bagi
peserta didik unutk menemukan dan menerapkan idenya sendiri
c.
Menyadarkan peserta
didik agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
Tokoh – Tokoh Teori Kontruktivisme
Tokoh penting dalam teori belajar Konstruktivisme
secara teoritik antara lain adalah : jean piaget dan Von Galserfeld (dalam Paul, S., 1996)
1.
Teori Belajar
Kontruktivisme Jean Piaget
Jean piaget
adalah psikolog pertama yang menggunakan filsafat kontruktivisme, yang teori
pengetahuannya dikenal dengan adaptasi kognitif. Manusia berhapadan dengan
tantangan, pengalaman, gejala baru, dan persoalan yang harus ditanggapi secara
kognitif (mental).Untuk itu, manusia harus mengembangkankan skema pikirannya
lebih umum atau rinci, atau perlu perubahan, menjawab dan menginterpretasikan
pengalaman-pengalaman tersebut.
Menurut
Piaget tahun (1971) pengetahuan itu akan bermakna bila dicari dan ditemukan
sendiri oleh peserta didik bukan hasil pemberitahuan orang lain, termasuk guru.
Selanjutnya, piaget dalam sanjaya (2007:194) menyatakan bahwa setiap individu
berusaha dan mampu mengembangkan pengetahuannya sendiri melalui skema yang ada
dalam struktur kognitifnya. Skema ini terus menerus diperbaharui dan diubah
melalui proses akumulasi dan akomodasi. Dengan demikian, tugas guru adalah
memotivasi peserta didik untuk mengembakan skema yang terbentuk melalui proses
akumulasi dan akomodasi tersebut.
Piaget
(1967, 1970) mengembangkan konsep dan metode teori dasar untuk mengkaji proses
kognitif. Teori dan penelitian Piaget (1967) mengenai perkembangan kognitif
menyarankan bahwa anak-anak tumbuh melalui beberapa tingkatan (stages) yang berbeda
dalam perkembangan kognitif dan bayi sampai dewasa. Menurut Piaget tingkat
pertama perkembangan kognitif membangun fondasi untuk perkembangan konsepual
dalam tindakan, dimulai dengan tindakan sensori motorik dan refleksi.Tingkatan
selanjutnya membangun tingkat kognisi yang lebih tinggi pada skema yang
terbentuk sebelumnya. Piaget menawarkan statement ringkas pada teorinya tentang
meaning making: “otak mengorganisasi dunia dengan mengorganisasi dirinya”.
Selain itu, Piaget juga berpendapat bahwa pada dasarnya setiap individu sejak
kecil sudah memiliki kemampuan untuk menngkontruksi pengetahuannya sendiri.
Pengethuan yang dikonstruksi oleh anak sebagai subjek, maka akan menjadi
pengetahuan yang bermakna; sedangkan pengetahuan yang hanya diperoleh melalui
pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. pengethauan
tersebut hanya untuk diingat sementara setelah itu dilupakan (Sanjaya,
2009:124).
Menurut
Piaget, mengkonstruksi pengetahuan dilakukan melalui proses asimilasi dan
akomodasi. Proses merespon lingkungan sesuai dengan struktur kognitif seseorang
dinamakan assimilation (asimilasi), yakni sejenis pencocokan atau penyesuaian
antara struktur kognitif dengan lingkungan fisik. Struktur kognitif yang eksis
pada momen tertentu akan dapat diasimilasikan oleh organisme. Misalnya, jika
skema mngisap, menatap, menggapai, dan memegang sudah tersedia bagi si anak,
maka segala sesuatu yang dialami anak akan diasimilasikan ke skemata itu. Saat
struktur berubah maka anak mungkin bisa mengasimilasikan aspek-aspek yang
berbeda dari lingklungan fisik.Skema yang dimaksud oleh Piaget dalam hal ini
adalah potensi umum untuk melakukan satu kelompok prilaku. Skema adalah istilah
yang amat penting dalam teori piaget. Suatu skema dapat dianggap sebagai elemen
dalam struktur kognitif organisme. Skemata (istilah jamak dari skema) yang ada
dalam organisme akan menentukan bagaimana ia akan merespon lingkungan fisik
Jelas, jika
asimilasi adalah satu-satunya proses kognitif, maka tak akanada perkembangan
intelektual sebab organisme hanya akan mengasimilasikan pengalamnnya ke dalam struktur
kognitif. Namun, proses penting kedua menghasilkan mekanisme untuk perkembangan
intelektual yaitu accomodation (akomodasi), proses memodifikasi struktur
kognitif.
Setiap
pengalaman yang dialami seseorang akan melibatkan asimilasi dan akomodasi. kejadian-kejadian
yang berkoresponden dengan skemata oragnisme membutuhkan akomodasi. Jadi, semua
pengalaman melibatkan dua proses yang sama-sama penting: pengenalan atau
mengetahui, yang berhubungan dengan asimilasi dan akomodasi, yang menghasilkan
modifikasi struktur kognitif. modifikasi ini dapat disamakan dengan proses
belajar. dengan kata lain, kita merespon dunia berdasarkan pengalaman yang kita
alami sebelaumnya. Aspek unik dari pengalaman ini menyebabkan perubahan dalam
struktur kogniti (akomodasi).Akomodasi karenanya menyediakan sarana utama bagi
perkembangan intelektual.
2.
Von
Galserfeld (dalam Paul, S., 1996)
Sebagaimana dikutif oleh Asri
Budiningsih (2005:57) mengemukakan bahwa ada beberapa kemampuan yang diperlukan
dalam proses mengkonstruksi pengetahuan, yaitu; 1) kemampuan mengingat dan
mengungkapkan kembali pengalaman, 2) kemampuan membandingkan dan mengambil
keputusan akan kesamaan dan perbedaan dan 3) kemampuan untuk lebih menyukai
suatu pengetahuan yang satu daripada yang lainnya.
Setara dengan di atas, Budingsih
juga mengemukakan bahwa faktor-faktor yang juga mempengaruhi proses
mengkonstruksi pengetahuan adalah konstruksi pengetahuan seseorang yang telah
ada, domain pengalaman, dan jaringan struktur kognitif yang dimilikinya. Proses
dan hasil konstruksi pengetahuan yang telah dimiliki seseorang akan menjadi
pembatas konstruksi pengetahuan yang akan datang. Pengalaman akan fenomena yang
baru menjadi unsur penting dalam membentuk dan mengembangkan pengetahuan.
keterbatasan pengalaman seseorang pada suatu hal juga akan membatasi
pengetahuannya akan hal tersebut. pengetahuan yang telah dimiliki orang
tersebut akan membentuk suatu jaringan struktur kognitif dirinya.
Semua kalangan dari paham
konstruktivis menyetujui bahwa pengetahuan secara aktif dikonstruksi oleh
manusia, entah secara individual ataupun dalam kelompok, bukannya diterima dari
sumber natural atau supranatural (atau bahkan dari seorang professor; Philips
1995). Selain ini, definisi kontruktivisme beragam menurut permasalahan yang diperdebatkan
bersama dengan perubahan konstruktivis. Bidang perdebatan yang paling dasar
dipresentasikan oleh suatu rangkaian dalam memandang belajar sebagai suatu
tindakan instruksi secara individual untuk melihat belajar sebagai sebuah
kontruksi sosial. Rangkaian ini dipusatkan pada satu posisi yang dikenal
sebagai konstruktivisme radikal atau psikologikal, yang menggambarkan
konstruksi pengetahuan sebagai suatu proses yang terjadi dalam mind dari
individu. Pada sisi lain dari rangkaian tersebut diberlakukan dengan posisi
yang dikenal sebagai “social constructivism or sociocultural posistion” yang
melihat “mind” sebagai hampir secara keseluruhan melekat
pada social practice of the culture (kenyataan
sosial budaya) (Robert, 2004: xiii)
Dengan demikian, kontruktivisme
seperti dikatakan oleh Von Glasefeld adalah salah satu filsafat pengetahuan
yang menekankan bahwa pengetahuan adalah bentukan (kontruksi) kita sendiri.
pengetahuan bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan
merupakan hasil dari kontruksi kognitif melalui melalui kegiatan seseorang
dengan membuat struktur, kategori, konsep, dan sekma yang diperlukan untuk
membentuk pengetahuan baru. Padangan kontruktivistik mengemukakan bahwa
realitas ada pada pikiran seseorang. Manusia mengkonstruksi pengalamnnya.
konstruktivistik mengarahkan perhatiannya pada bagaimana seseorang
mengkonstruksi pengetahuan dari pengalamnnya, struktur mental, dan keyakinan
yang digunakan untuk menginterpretasikan objek dan peristiwa-peristiwa.
Pandangan konstruktivistik mengakui bahwa pikiran dalah instrumen penting dalam
menginterpretasikan kejadian, objek, dan pandangan dunia nyata, di mana
interpretasi tersebut terdiri dari pengetahuan dasar manusia secara individual.
B.
KONSEP DAN TEORI BELAJAR HUMANISME
Dalam teori belajar
humanisme proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri.
Meskipun teori ini sangat menekankan pentingnya isi dari proses belajar, dalam
kenyataan teri ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar
dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik
pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada belajar seperti
apa adanya, seperti apa yang bias kita amati dalam dunia keseharian. Menurut
teori humanisme, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses
belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya
sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia pun
mampu mencapai aktualisai diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini
berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari
sudut pandang pengamatnya. Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa
untuk mengembangkan dirinya yaitu membantu masing-masing individu untuk
mengenali diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam
mewujudkan potensi-potensi yang dad dalam diri mereka.
Dalam pelaksanaannya, teori
humanisme ini antara lain tampak juga dalam pendekatan belajar yang dikemukakan
oleh Ausubel. Pandangannya tentang belajar bermakna atau “Meaningful
Lerning” yang juga tergolong dalam aliran kognitif ini, mengatakan
bahwa belajar merupakan asimilasi bermakna.materi yang dipelajari
diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki
sebelumnya. Faktor motivasi dan pengalaman emosional sangat penting dalam
peristiwa belajar, sebab tanpa motivasi dan keinginan dari pihak si
belajar, maka tidak akan terjadi asimilasi pengetahuan baru kedalam struktur
kognitif yang telah dimilikinya teori humanisme berpendapat bahwa teori belajar
apapun dapat dimanfaatkan, asal tujuannya untuk memenusiakan manusia yaitu
mencapai aktualisai diari, pemahama diri, serta realisasi diri orang yang
belajar secara optimal.
Pemahaman terhadap belajar
yang diidealkan menjadi teori humanisme dapat memanfaatkan teori belajar apapun
asal tujuannya memanusiakan manusia. Hal ini menjadikan teori humanisntic
bersifat sangan eklektik. Tidak dapat disangkal lagi bahwa setiap pendiriian
atau pendekatan belajar tertentu akan ada kebaikan dan ada pula klemahannya.
Dalam arti ini elektisisme suatu system dengan membiarkan unsure-unsur tersebut
dalam keadaan sebagaimana adanya atau aslinya. Teori humanisme akan
memanfaatkan teori-teori apapunasal tujuanya tercapai yaitu memanusiakan
manusia.
Manusia adalah makhluk yang
kompleks. Banyak ahli didalam menyusun teorinya hanya terpukau pada aspek
tertentu yang sedang menjadi pusat perhatiannya. Dengan pertimbangan –
pertimbangan tertentu setiap ahli melakukan penelitiannya dari sudut pandangnya
masing – masing dan menganggap bahwa keterangannya tentang bagaimana manusia
itu belajar adalah sebagai keterangan yang paling memadai. Maka akan terdapat
berbagai teori tentang belajar sesuai pandangan masing –masing.
Kelebihan dan kekurangan aplikasi teori belajar
humanisme
Kelebihannya
1.
Aplikasi
teori ini bisa memunculkan kreativitas peserta didik atau orang yang belajar.
Hal ini terjadi karena teori ini berpusat pada orang yang belajar, bukan pada
materi yang harus dijejalkan pada peserta didik.
2.
Tenaga
pendidik justru memiliki tugas yang lebih ringan, tidak terpaku untuk
menyelesaikan materi tetapi lebih fokus pada pengembangan setiap individu yang
belajar.
3.
Teori
humanistik cenderung mampu merekatkan hubungan sosial antara peserta didik.
Tidak ada persaingan dalam pembelajaran karena semua orang berhak untuk
mengoptimalkan kemampuan diirnya, sesuai pada tingkatan masing-masing.
4.
Melatih
peserta didik sebagai pribadi yang bebas dan tidak terikat dengan pendapat
orang lain. Peserta didik diarahkan untuk bisa bertanggung jawab atas dirinya
sendiri.
Kekurangannya
Meskipun cenderung
sangat membebaskan peserta didik dalam proses pembelajaran, nyatanya teori ini
memiliki beberapa kelemahan yang harus diwaspadai.
1.
Aplikasi
teori ini memungkinkan peserta didik untuk sulit memahamai potensi dirinya
sendiri. Ini terjadi karena tenaga pendidik yang terlalu ‘melepaskan’ peserta
didik dalam mengeksplorasi dirinya sendiiri
2.
Peserta
didik yang tidak berminat untuk mengikuti proses belajar akan tertinggal dengan
peserta didik lain yang sudah memiliki niatan untuk belajar dan memperbaiki
diri.
3.
Jika
peserta didik tidak rajin untuk mengikuti proses pembelajaran, besar
kemungkinan ia akan kesulitan mengikuti proses belajar selanjutnya karena masih
tertinggal di tahap-tahap awal.
4.
Peserta
didik memiliki potensi untuk menyalahgunakan kebebasan yang diberikan.
Tokoh – Tokoh Teori Humanisme
Tokoh penting dalam teori
belajar humanitik secara teoritik antara lain adalah : Arthur Combs, Abraham
Maslow, dan Carl Rogers.
1.
Arthur Combs
Perasaan , persepsi , keyakinan dan maksud merupakan
perilaku-perilaku batiniah yang menyebabkan seseorang berbeda dengan yang lain
Menurut Combs dan kawan – kawan menyatakan bahwa
apabila kita ingin memahami perilaku orang kita harus mencoba memahami dunia
persepsi orang lain tersebut , bagaimana ia berpikir dan merasa tentang dirinya
. itulah sebabnya , untuk mengubah perilaku orang lain seseorang harus mengubah
persepsinya .
Para ahli psikologi humanisme melihat 2 bagian belajar
, yaitu :
a.
Pemerolehan informasi baru
Peserta didik akan tertarik dan bersemangat untuk
belajar jika apa yang dipelajari akan menjadi suatu informasi baru yang
bermakna dan bermanfaat bagi dirinya
b.
’ Personalisasi’’ informasi ini pada individu
Informasi baru yang dipahami peserta didik itu bukan
hasil transfer langsung dari guru kepesrta didik tapi peserta didik sendirilah
yang menerna dan mengolah apa yang disampaikan guru menjadi sesuai dan bermakna
. artinya informasi itu dieroleh sendiri dan peserta didik lahyang menjadi
pemilik informasi tersebut . peran guru disini adalah sebagai pembimbing yang
mengarahkan.
Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu.
Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan
kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh
tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan
penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain
hanyalah dari ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan
memberikan kepuasan baginya. Untuk itu guru harus memahami perilaku siswa
dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin
merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa
yang ada. Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain .
Combs juga berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi
bahwa siswa mau belajar apabila subjek metter-nya disusun dan disajikan
sebagaimana mestinya .Padahal ‘’arti’’ tidaklah menyatu pada subject matter
itu, dengan kata lain di individulah yang memberikan arti tadi kepada subject
matter itu. Sehingga yang penting adalah bagaimana caranya membawa si siswa
untuk memperoleh ‘’ arti bagi pribadi nya ‘’ dari subject matter itu ,
bagaimana siswa itu menghubungkan subject matter itu dengan kehidupan nya.
2.
Abraham Maslow
Abraham
Maslow (1908-1970) dapat dipandang sebagai bapak psikologi humanistik. Gerakan
psikologi humanistik lahir di Amerika Serikat pada tahun 1950 dan terus
berkembang. Alasan munculnya pendekatan psikologi humanistik ini disebabkan
karena ketidakpuasan terhadap pendekatan behavioristik. Psikologi humanistik
itu sendiri adalah gambaran dimana manusia dipandang sebagai makhluk yang
bermartabat dan bebas yang selalu bergerak untuk mengungkap eksistensinya
dengan segala potensinya. Aliran ini menawarkan suatu nilai untuk memahami
sifat, tingkah laku, serta psikoterapi yang lebih terapi terhadap manusia.
Manusia
adalah makhluk kreatif yang tidak dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan
ketidaksadaran (psikonalisis), melainkan oleh nilai-nilai dan pilihannya
sediri. Pada tahun 1958 Maslow menamakan psikologi humanistik sebagai “kekuatan
ketga”, disamping behavioristik dan psikoanalisis sebagai kekuatan pertama dan
kekuatan kedua.
Maslow
terkenal dengan teorinya tentang hierarchy of needs. Adapun isi dari
teori tersebut, yaitu:
a.
Kebutuhan-kebutuhan fisiologis (the physicological needs).
b.
Kebutuhan akan rasa aman (the safety needs).
c.
Kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki (the belongingness and love
needs).
d.
Kebutuhan akan penghargaan (the esteem needs).
e. Kebutuhan untuk aktulisasi diri (the needs for self actualization).
Apabila kebutuhan yang satu telah terpenuhi,
maka kebutuhan yang lebih tinggi akan menuntut untuk dipenuhi, demikian pula
seterusnya.
Menurut Maslow
psikologi harus lebih manusiawi, yaitu lebih memusatkan perhatian pada
masalah-masalah kemanusiaan. Psikologi harus mempelajari seberapa dalam sifat
manusia, selain mempelajari perilaku yang tampak kita juga harus mempelajari
perilaku yang tidak tampak; mempelajari ketidaksadaran sekaligus mempelajari
kesadaran. Introspeksi sebagai suatu metode penelitian yang telah disingkirkan,
harus dikembalikan lagi sebagai metode penelitian psikologi. Psikologi harus
mempelajari manusia bukan sebagai tanah liat yang pasif, yang ditentukan oleh
kekuatan-kekuatan dari luar, tetapi manusia adalah makhluk yang aktif,
menentukan geraknya sendiri, ada kekuatan dari dalam untuk menentukan
perilakunya.
Ada empat ciri
psikologi humanistik, yaitu:
a.
Memusatkan perhatian pada orang yang mengalami, dan karenanya berfokus
pada pengalaman sebagai fenomena primer dalam mempelajari manusia.
b.
Menekankan pada
kualitas-kualitas yang khas manusia, seperti kreativitas, aktualitas diri,
sebagai lawan dari pemikiran tentang manusia yang mekanistis dan
reduksionistis.
c.
Menyandarkan diri pada kebermaknaan dalam memilih masalah yang akan
dipelajari dan prosedur-prosedur penelitian yang akan digunakan.
d.
Memberikan perhatian penuh dan meletakkan nilai yang tinggi pada
kemuliaan dan martabat manusia serta tertarik pada perkembangan potensi yang
inheren pada setiap individu.
3.
Carl R. Rogers
Dalam bukunya “ freedom to learn “, ia
menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip belajar humanistik yang penting,
diantaranya ialah :
a.
Manusia itu mempunyai kemampuan untuk belajar secara alami.
b.
Belajar yang signifikan terjadi apabila subject matter dirasakan murid
mempunyai relevansi dengan maksud-maksudnya sendiri.
c.
Belajar yang menyangkut suatu perubahan di dalam persepsi mengenai
diri sendiri, dianggap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
d.
Tugas-tugas belajar yang mengancam diri adalah lebih mudah dirasakan
dan diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil.
e.
Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh
dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
f.
Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
g.
Belajar yang diperlancar bilamana siswa dilibatkan langsung dalam
proses belajar dan ikut bertanggung
jawab terhadap proses belajar itu.
h.
Belajar atas inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa
seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan
hasil yang mendalam dan lestari.
i.
Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreatifitas lebih
mudah dicapai apabila terutama siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengkritik
dirinya sendiri dan penilaian diri orang lain merupakan cara kedua yang
penting.
j.
Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini
adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus
terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam dirinya sendiri mengenai proses
perubahan itu.
C.
KONSEP
DAN TEORI BELAJAR BEHAVIORISME
Teori
belajar behavioristic ini dikemukakan oleh para psikolog behavioristik. Mereka
ini sering disebut “contemporary behaviorist” atau disebut “S-R psychologists”
Mereka berpendapat, bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran
(reward) atau penguatan (reinforcement”) dari lingkungan. Dengan demikian dalam
tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioral
dengan stimulasinya.
Guru-guru
yang menganut pandangan ini berpendapat bahwa tingkah laku murid-murid
merupakan reaksi-reaksi terhadap lingkungan mereka pada masa lalu daan masa
sekarang dan bahwa segenap tingkah laku merupakan hasil belajar. Kita dapat
menganalisis kejadian tingkah laku dengan jalan mempelajari latar belakang
penguatan (“reinforcement”) terhadap tingkah laku tersebut.
Behaviorisme adalah
teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh
respons pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap rangsangan dapat
diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi
yang diinginkan.Hukuman kadang-kadang digunakan dalam menghilangkan atau
mengurangi tindakan tidak benar, diikuti dengan menjelaskan tindakan yang
diinginkan.Pendidikan behaviorisme merupakan kunci dalam mengembangkan
keterampilan dasar dan dasar-dasar pemahaman dalam semua bidang subjek dan
manajemen kelas.Ada ahli yang menyebutkan bahwa teori belajar behavioristik
adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara
konkret.
Premis dasar
teori belajar behavioristik menyatakan bahwa interaksi antara stimulus respons
dan penguatan terjadi dalam suatu proses belajar. Teori belajar behavioristik
sangat menekankan pada hasil belajar, yaitu perubahan tingkah laku yang dapat
dilihat. Hasil belajar diperoleh dari proses penguatan atas respons yang muncul
terhadap stimulus yang bervariasi.
Salah satu
teori belajar behavioristik adalah teori classical conditioning dari Pavlov
yang didasarkan pada reaksi sistem tak terkondisi dalam diri seseorng serta
gerak refleks setelah menerima stimulus. Menurut Pavlov, penguatan berperan
penting dalam mengkondisikan munculnya respons yang diharapkan. Jika penguatan
tidak dimunculkan, dan stimulus hanya ditampilkan sendiri, maka respons
terkondisi akan menurun dan atau menghilang. Namun, suatu saat respons tersebut
dapat muncul kembali.
Sementara
itu, connectionism dari Thorndike menyatakan bahwa belajar merupakan proses
coba-coba sebagai reaksi terhadap stimulus. Respons yang benar akan semakin
diperkuat melalui serangkaian proses coba-coba, sementara respons yang tidak
benar akan menghilang. Akibat menyenangkan dari suatu respons akan memperkuat
kemungkinan munculnya respons. Respons yang benar diperoleh dari proses yang
berulang kali yang dapat terjadi hanya jika siswa dalam keadaan siap.
Teori
behaviorism dari Watson menyatakan bahwa stimulus dan respons yang menjadi
konsep dasar dalam teori perilaku haruslah berbentuk tingkah laku yang dapat
diamati. Interaksi stimulus dan respons merupakan proses pengkondisian yang
akan terjadi berulang-ulang untuk mencapai hasil yang cukup kompleks.
Ciri dari
behaviorisme adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat
mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau
respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil
belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah
munculnya perilaku yang diinginkan. Guru yang menganut pandangan ini
berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan
tingkahl laku adalah hasil belajar.
Dalam hal
konsep pembelajaran, proses cenderung pasif berkenaan dengan teori
behavioris.Pelajar menggunakan tingkat keterampilan pengolahan rendah untuk
memahami materi dan material sering terisolasi dari konteks dunia nyata atau
situasi.Little tanggung jawab ditempatkan pada pembelajar mengenai
pendidikannya sendiri.
Ada
beberapa tokoh behaviorisme.Tokoh-tokoh aliran behaviorisme tersebut
antaranya adalah Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan
Skinner. Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh aliran behaviorisme dan
analisis serta peranannya dalam pembelajaran.
1.
Teori Belajar Menurut Edward Thorndike
Menurut
Thorndike, adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah
apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan atau
hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah
reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa
pikiran, perasaan atau gerakan / tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat
belajar dapat berwujud konkrit, yaitu dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu
tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan
pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku
yang tidak dapat diamati.
Teori Thorndike ini disebut pula dengan “Teori
Connectionism”. Dasar-dasar teori Connectionism dari Edward L. Thorndike
(1874-1949) diperoleh juga dari sejumlah penelitian yang dilakukan terhadap
perilaku binatang. Penelitian-penelitian Thorndike pada dasarnya dirancang
untuk mengetahui apakah binatang mampu memecahkan masalah dengan menggunakan
“reasoning” atau akal, dan atau dengan mengkombinasikan beberapa proses
berpikir dasar.
Dalam penelitiannya, Thorndike menggunakan beberapa
jenis binatang, yaitu anak ayam, anjing, ikan, kucing dan kera. Percobaan yang
dilakukan mengharuskan binatang-binatang tersebut keluar dari kandang untuk
memperoleh makanan. Percobaan Thorndike yang terkenal ialah dengan menggunakan
seekor kucing yang telah dilaparkan dan diletakkan di dalam sangkar yang
tertutup dan pintunya dapat dibuka secara otomatis apabila kenop yang terletak
di dalam sangkar tersebut tersentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori
“trial and error” atau “selecting and conecting”, yaitu bahwa belajar itu
terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. Dalam percobaan tersebut
apabila di luar sangkar diletakkan makanan, maka kucing berusaha untuk
mencapainya dengan cara meloncat-loncat kian kemari. Dengan tidak tersengaja
kucing telah menyentuh kenop, maka terbukalah pintu sangkar tersebut, dan
kucing segera lari ke tempat makan. Percobaan ini diulangi untuk beberapa kali,
dan setelah kurang lebih 10 sampai dengan 12 kali, kucing baru dapat dengan
sengaja menyentuh kenop tersebut apabila di luar diletakkan makanan.
Ciri-ciri belajar dengan Thorndike menemukan beberapa
hukum yaitu:
a.
Hukum kesiapan, jika suatu organisme didukung oleh kesiapan yang kuat
untuk memperoleh stimulus maka pelaksanaan tingkah laku akan menimbulkan
kepuasan individu sehingga asosaiasi cenderung diperkuat.
b.
Hukum latihan, Semakin sering suatu tingkah laku dilatih atau
digunakan maka asosiasi tersebut semakin kuat.
c.
Hukum akibat, Hubungan stimulus dan respon cenderung diperkuat bila
akibat menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibanya tidak memuaskan.
2.
Teori Belajar Menurut Watson
John B. Watson (1878 – 1958) adalah orang pertama di
Amerika Serikat yang mengembangkan teori belajar berdasarkan hasil penelitian
Pavlov. Watson berpendapat bahwa “Belajar merupakan proses terjadinya refleks –
refleks atau respon – respon bersyarat melalui stimulus pengganti”. Menurut Watson, manusia dilahirkan dengan beberapa refleks
dan reaksi-reaksi emosional berupa takut, cinta dan marah. Semua tingkah laku
lainnya terbentuk oleh hubungan – hubungan stimulus respon baru melalui
conditioning (pensyaratan)
Salah satu percobaannya adalah terhadap anak berumur
11 bulan dengan seekor tikus putih. Rasa takut dapat timbul tanpa dipelajari
dengan proses ekstrinsik, dengan mengulang stimulus bersyarat tanpa dibarengi
stimulus tanpa bersyarat.
Menurut Watson, kepribadian manusia dapat dibentuk
melalui pemberian rangsangan – rangsangan tertentu. Watson berpendapat bahwa
hampir semua prilaku merupakan hasil dari pengendalian dan lingkungan membentuk
perilaku kita dengan memperkuat kebiasaan tertentu. Belakangan, behaviorisme
lebih dikenal dengan teori belajar, karena menurut mereka, seluruh perilaku
manusia, kecuali insting, adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan
perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Tentu saja, behaviorisme tidak
mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional,
behaviorsme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh
faktor-faktor lingkungan.
Watson berpendapat, bahwa hal senang dan tidak senang
itu adalah soal senso motoris, dia ingin mengetahui apakah ada reaksi emosional
yang dibawa sejak lahir. Untuk keperluan ini dia melakukan penyelidikan
terhadap berpuluh-puluh bayi yang dirawat rumah sakit, dan mendapatkan adanya
tiga macam pola tingkah laku emosional yang dapat diamati yaitu takut, marah
dan cinta
Dalam eksperimen-eksperimen lebih lanjut dia mendapat
kesimpulan, bahwa reaksi-reaksi emosional itu dapat ditimbulkan dengan pensyaratan
(conditioning) dan reaksi emosiaonal bersyarat itu dapat dihilangkan dengan
pensyaratan kembali (reconditioning). Tentang proses persyaratan dan
pensyaratan kembali itu pada pokoknya sama dengan yang dilakukan oleh Pavlov.
Watson berpendapat bahwa reaksi-reaksi kodrati yang
dibawa sejak lahir itu sedikit sekali. Kebiasaan-kebiasaan itu terbentuk dalam
perkembangan, karena latihan dan belajar.
3.
Teori Belajar Menurut Clark Hull
Clark L. Hull mengatakan bahwa
stimulus (S) berpengaruh terhadap organisme (O) dan menghasilkan bermacam-macam
respon (R) tergantung bagaimana karakter (S) dan (O). Teori Hull disebut dengan
Teori pengurangan dorongan atau “Drive Reduction”. Sama dengan teori lainnya,
reinforcement atau penguatan merupakan faktor utama teori Clark Hull. Bedanya
teori Clark Hull terpengaruh dengan teori evolusi dari Charles Darwin. Menurut
Clark Hull, sama halnya dengan teori evolusi, semua fungsi tingkah laku
bermanfaat untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Clark Hull
mengatakan kebutuhan biologis (Drive) harus ada dalam diri seseorang sebelum
diperkuat oleh pengurangan kebutuhan (Drive Reduction). Teori belajar Hull
berpusat pada perlunya memperkuat pengetahuan yang sudah ada. Menurut pandangan
Clark Hull belajar tidak terjadi secara spontan, tetapi karena ada hubungan S-R
dan perilaku juga dipengaruhi suatu proses yang terjadi dalam diri organisme
tetapi tidak bisa diamati atau disebut “Variabel Intervening”. Intinya menurut
pendapat Clark Hull hasil belajar siswa dipengaruhi kemampuan siswa itu
sendiri, lingkungan, dan faktor lain seperti motivasi belajar, minat dan
perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, serta faktor
fisik dan psikis.
Prinsip-prinsip utama teori dari
Hull sendiri adalah :
a.
Reinforcement adalah faktor penting
dalam belajar yang harus ada. Namun fungsi reinforcement bagi Hull lebih
sebagai drive reduction daripada satisfied factor.
b.
Dalam mempelajari hubungan S-R yang
diperlu dikaji adalah peranan dari O (organisme).
c.
Proses belajar baru terjadi setelah
keseimbangan biologis terjadi. Di sini tampak pengaruh teori Charles Darwin
yang mementingkan adaptasi biologis organisme.
Prinsip Drive Reduction :
a.
Dorongan merupakan hal penting.
b.
Stimulus dan respon harus diketahui organisme agar dapat terjadi
pembiasaan.
c.
Respon harus dibuat agar terjadi pembiasaan.
d.
Pembiasaan hanya terjadi jika reinforcement dapat memenuhi kebutuhan.
Contoh Pengaplikasian Teori Clark Hull :
Contohnya dalam kelas, mereduksi
kecemasan murid adalah syarat yang diperlukan untuk belajar di kelas, karena
terlalu sedikit kecemasan atau tidak ada kecemasan sama sekali tidak akan
menimbulkan motivasi dalam proses belajar, karena tidak adanya dorongan yang
direduksi. Tetapi terlalu banyak kecemasan malah akan mengganggu proses
balajar. Karena ketika kecemasan itu ringan sampai sedang, misalnya
diberitahukan setiap minggunya diadakan kuis, maka akan memacu semangat murid
untuk belajar sebelum tatap muka dengan guru.Miller dan Dollard (1941)
mengemukakan aplikasi teori Hull untuk pendidikan
Drive (Siswa harus
menginginkan sesuatu).
Misalnya, siswa tersebut tau apa yang akan dicapainya, seperti cita–cita.
Cue (Siswa harus memerhatikan sesuatu).
Misalnya , siswa focus terhadap apa yang ingin dicapainya.
Response (Siswa harus melakukan sesuatu).
Misalnya, siswa rajin belajar, melaksanakan apa yang diperintahkan gurunya,
dll.
Reinforcement (Respon siswa harus membuatnya mendapatkan sesuatu yang
diinginkan).
Misalnya, dengan berusaha sekeras mungkin untuk mencapai tujuan yang
diinginkan.